by

Mourinho Resmi Jadi Manajer Tottenham, Siap-siap Kencangkan ‘Ikat Pinggang’

INTERNASIONAL – Jose Mourinho resmi diangkat menjadi manajer menangani Tottenham Hotspur menggantikan Mauricio Pochettino Rabu (20/11).

Mourinho dipilih atas pertimbangan pengalaman, ia dinilai tak gagal mempersembahkan trofi sejak menangani Porto pada 2002 silam. Hal ini diakui oleh Chairman Tottenham Daniel Levy.

Namun, bersamaan dengan kehadiran Mourinho di Tottenham, pertayaan umum sekan tak pernah luput dari benak penggila sepakbola. Yakni, mampukah pria asal Portugal itu bertahan dengan kebiasaan mengencangkan ‘ikat pinggang’ di bursa transfer.

Apalagi, Mouriho sendiri acapkali mewacanakan strategi prestisius dengan kebutuhan biaya yang tak sedikit. Meski ia menyebut salah satu alasan yang membuatnya bersedia mengurus Tottenham adalah kualitas skuat dan akademi yang bagus.

Mengemban nama besar, manajer 56 tahun itu cepat atau lambat akan berhasrat membawa Tottenham menyamai level Manchester City dan Liverpool.

Itu berarti butuh dana yang besar dan rekrutan bagus di sejumlah bursa transfer. Tapi, patut dicatat bahwa Tottenham tak pernah punya riwayat jor-joran di jendela jual-beli pemain, bahkan di era Pochettino di mana mereka selalu finis empat besar di empat musim terakhir.

Pada musim perdana Pochettino di Tottenham misalnya, yakni 2014/2015, belanja pemain hanya ada di angka 48,5 juta euro. Pembelian termahal adalah Ben Davies seharga 12,65 juta euro disusul Federico Fazio dengan 10 juta euro.

Di musim ini pula Pochettino merekrut Dele Alli dan Eric Dier dengan total biaya hanya 11,6 juta euro. Pochettino memang lebih fokus ke pemain muda, yang dibuktikan dengan fakta bahwa Davies, Alli, dan Dier kini jadi pilar tim.

Musim berikutnya, Tottenham hanya berbelanja total 71 juta euro. Pembelian terbesar adalah Son Heung-min seharga 30 juta euro. Dalam periode ini turut didatangkan Toby Alderweireld dan Kieran Trippier. Son dan Alderweireld saat ini masih diandalkan, sedang Trippier sudah dilego ke Atletico Madrid.

Di musim 2016/2017, Moussa Sissoko adalah pembelian mewah Tottenham dengan banderol 35 juta euro. Mereka juga membeli Vincent Janssen dan Victor Wanyama. Janssen pada prosesnya dibuang, sementara Sissoko dan Wanyama masih diandalkan.

Musim 2017/2018 adalah tahun terboros untuk Tottenham di bawah Pochettino. Mereka menghabiskan 121,5 juta euro, di antaranya untuk merekrut Davinson Sanchez (40 juta euro), Lucas Moura (28 juta euro), Serge Aurier (25 juta euro), Fernando Llorente (15 juta euro), dan Juan Foyth (13 juta euro). Di antara rekrutan ini, hanya Sanchez, Moura, dan Aurier yang bertahan dan menjadi pilihan utama.

Di musim 2018/2019, Tottenham memutuskan tak membeli pemain sama sekali. Di titik ini, sejumlah investasi ke pemain muda sebelumnya sudah menunjukkan hasil. Nyatanya, empat besar Liga Inggris kembali diraih dan final Liga Champions dicapai.

Menyambut tahun kejuaraan 2019/2020, Tottenham mengeluarkan 114 juta euro. Tanguy Ndombele adalah pembelian termahal dengan biaya mencapai 60 juta euro dan tercatat dalam rekor klub.

Pengeluaran lainnya adalah pembelian Ryan Sessegnon seharga 27 juta euro, lalu peminjaman Giovani Lo Celso senilai 16 juta euro. Bagaimana hasilnya? Tottenham malah merosot performanya, yang berimbas pada pemecatan Pochettino.

Salah satu persoalannya adalah, sebagaimana yang dikeluhkan Pochettino, kebijakan transfer. Sang manajer tak memegang kendali penuh atas siapa-siapa yang didatangkan, dijual, dan diperpanjang kontraknya.

Ia tak tahu sama sekali urusan pembelian Ndombele dan penjualan Trippier. Menyerahkan posisi Pochettino ke Mourinho dengan kewenangan semacam ini seharusnya sama saja bunuh diri untuk Tottenham.

Seperti diketahui, Mourinho mengalami situasi serupa di Manchester United, yang berujung pisah jalan. Di sana transfer-transfer diatur dengan ketat oleh Ed Woodward, sebagaimana yang dilakukan Daniel Levy di Tottenham.

Mungkinkah misi Mourinho dapat terwujud di Tottenham?

 

Sumber: detiksort

Facebook Comments

News Feed